Description
Buku ini mengupas secara kritis hubungan problematis antara iman dan rasio dalam dua tradisi besar, Islam dan Katolik, khususnya dalam konteks intelektual dan sosial Indonesia. Sejak awal sejarahnya, agama sering dipandang sebagai wilayah yang mengedepankan wahyu dan otoritas transendental, sementara filsafat menuntut argumentasi logistik dan rasionalitas. Pertemuan keduanya menghasilkan dialektika yang paradoksal: di satu sisi, iman membutuhkan rasio untuk mengartikulasikan dirinya secara intelektual; Di sisi lain, rasio kerap dianggap berpotensi mengganggu kemurnian iman.
Penulis menelusuri bagaimana tradisi intelektual Islam melalui pemikiran para mutakallimun, falasifah, hingga ulama Nusantara, berupaya merumuskan sintesis antara akidah dan rasionalitas. Sementara itu, tradisi Katolik di Indonesia diwarisi dari pergulatan filsafat skolastik Eropa, khususnya dalam pemikiran Thomas Aquinas, yang mencoba membangun harmoni antara iman dan akal. Kedua tradisi tersebut, ketika hadir di Indonesia, menghadapi realitas sosial-politik yang kompleks, termasuk sekularisasi, pluralisme agama, dan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Buku ini tidak berhenti pada kajian historis, namun juga menawarkan analisis kontekstual mengenai tantangan kontemporer: bagaimana generasi muda Muslim dan Katolik di Indonesia menafsirkan kembali hubungan iman dan dalam rasio era globalisasi, pendidikan modern, serta memuat publik seputar moralitas, politik, dan teknologi.
Dengan pendekatan interdisipliner, buku ini menampilkan bahwa paradoks iman dan rasio bukan sekadar pertentangan, melainkan ruang dialog yang kreatif dan dinamis. Justru dalam ketegangan inilah lahirnya peluang bagi penguatan identitas keagamaan yang terbuka terhadap ilmu pengetahuan, sekaligus rasionalitas yang menghilangkan nilai-nilai transendental.







Reviews
There are no reviews yet.